Oleh: karenakata | 06/02/2017

Dakwah Entertainment dan Sertifikasi Mubaligh

KOMENTAR

Dakwah Entertainment

dan Sertifikasi Mubaligh

ABDULLAH KHUSAIRI

whatsapp-image-2017-02-06-at-11-10-36-am-1Menteri Agama Republik Indonesia, Lukmanul Hakim melempar wacana sertifikasi bagi mubaligh. Sertifikasi dimaksud agar mimbar-mimbar masjid tidak menjadi tempat menebar kebencian dan caci maki. Mereka yang naik ke mimbar-mimbar harus terseleksi. Bukan sembarang orang saja.

Sebenarnya ini adalah wacana lama, yang sudah diperbincangkan berkali-kali di kalangan praktisi, pengamat dan akademisi di ruang seminar-seminar Ilmu Dakwah. Namun wacana ini belum pernah mencapai titik temu, sehingga belum bisa membentuk sistem sertifikasi dan lembaga mana saja yang punya kompetensi untuk melakukannya. Ada pikiran, organisasi keagamaan seperti MUI, Muhammadiyah, NU, Perti, Persis, yang mengelola. Ditambah dengan lembaga pendidikan, seperti Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi dan Fakultas Ushuluddin. Lagi-lagi, semua itu masih belum terealisasi. Baca Lanjutannya…

Oleh: karenakata | 01/01/2017

O P I N I

HIKMAH

Jalan Sunyi Sang Sufi

 ABDULLAH KHUSAIRI

Pemahaman sebagian kita tentang sufi, adalah jalan sunyi individu terpilih untuk tidak lagi mencintai dunia berlebihan (al hub al dunia). Menanggalkan dan meninggalkan semua hal yang berkaitan dengan hawa nafsu duniawi. Bila dibaca sejarah, memang demikianlah adanya orang-orang sufi menjalankan kehidupannya. Menyepi di gua, gunung, hutan dan di pinggir pantai, untuk menyendiri, suluk, menyepi, berzikir dan kontemplasi.

Di tengah masyarakat memiliki pandangan yang kian materialis, godaan iklan-iklan di setiap saat dan setiap sudut, memilih jalan sunyi sebagai seorang sufi adalah keajaiban. Memilih untuk tidak tergoda dengan kehidupan yang glamour sangatlah langka. Baca Lanjutannya…

Oleh: karenakata | 27/12/2016

O P I N I

O P I N I

Cerdaslah Memilih Media Online

ABDULLAH KHUSAIRI

Zaman android yang serba mudah dan indah ini, mengakses informasi semudah menggerakkan jari di layar sentuh seluler. Sayangnya, kemudahan ini tidak dibarengi kesiapan literasi media massa, sehingga informasi diterima tanpa penyaringan yang layak.

Dampaknya adalah menyebarnya informasi bohong dan bodong. Dunia pun banjir informasi. Membawa sampah-sampah kepentingan sesaat orang-orang tak bertanggung-jawab atas informasi yang disebarkan. Sampah-sampah penetrasi kepentingan politik dan ekonomi orang-orang yang memperkuda kebodohan pengguna android. Menjadi semacam jarum hypodermic yang menyuntik tapi tak terasa sakit dan tak disadari, demi mencapai tujuan kepentingannya.

Bagi mereka yang tidak punya literasi media massa memadai, akan menelan bulat-bulat informasi yang diluncurkan. Sialnya lagi, menyebarkan kembali dengan penuh keyakinan atas kebenaran berita yang didapatkan. Inilah yang membuat runyam. Baca Lanjutannya…

Oleh: karenakata | 25/12/2016

Pesan Damai dari Mimbar

HIKMAH

Pesan Damai dari Mimbar

 ABDULLAH KHUSAIRI

Jika kita rutin ke Masjid di bulan Suci Ramadhan ini, untuk shalat berjamaah, kita akan banyak mendapat pencerahan dara para ustadz dari mimbar. Pengajian rutin, kalau lengkap diikuti selama puasa ini, paling tidak ada 60 kali pertemuan pengajian. Pada saat akan tarawih dan shubuh. Ini belum termasuk bagi kaum bapak, yang juga akan mendapat pencerahan dari empat khutbah khatib Jumat.

Pertanyaannya, apa saja yang biasa dibawa dari pertemuan pengajian itu? Adakah membekas di hati dan menjadi pengetahuan yang bisa ditunaikan dalam kehidupan sehari-hari? Dua pertanyaan ini penting sekali dikemukakan, mengingat kegiatan tahunan setiap Ramadhan tiba, semestinya tidak begitu-begitu saja. Harus ada pengembangan dan perkembangan secara teknis dan praktis. Biar efektif dan membawa perubahan. Tidak angin lalu semata.

Dipandang dari soal materi pengajian ceramah, tentunya tidak akan pernah terlewatkan tentang, wasiat taqwa, keutamaan bulan suci Ramadhan, tentang kesucian jiwa, kehidupan yang fitri, tentang pelaksanaan ibadah, muamalah, serta hari akhirat, pahala dan dosa, dsb. Baca Lanjutannya…

Oleh: karenakata | 25/12/2016

Memahami Perkara Nalar dan Wahyu

HIKMAH

Memahami Perkara Nalar dan Wahyu

 ABDULLAH KHUSAIRI

Semangat keberagamaan tumbuh subur di tengah masyarakat, seiring kesadaran dan kebutuhan kehadirat ilahiyah dalam diri. Sayangnya, ada sebagian kecil yang terlanjur menutup kesempatan untuk menggali lebih dalam dan hanya berdiam pada ilmu agama yang sudah dimiliki saja.

Tentu tidak bisa disangkal, di rumah keluarga muslim akan ada kitab suci al-Quran. Dibaca sebagai ibadah. Tetapi harusnya, dilengkapi dengan terjemahan, kalau bisa juga didukung satu dua Kitab Tafsir al-Quran juga.

Alangkah indah pula, ada kitab-kitab hadits, lalu dibaca dan didiskusikan. Tentu saja, ini membutuhkan pengorbanan sedikit, demi kedalaman ilmu dan pemahaman agama, yang terus berproses, dimasak, melalui penalaran yang bijak. Tidak emosi dan merasa paling tahu. Lalu menyalahkan yang lain. Di sinilah dimulai persoalan perbedaan bisa meruncing membawa petaka di tengah ummat. Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori